Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) menyoroti dampak serius kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap sektor kesehatan nasional. Organisasi tersebut mencatat bahwa beban kesehatan yang ditimbulkan akibat bencana lingkungan ini telah menembus angka Rp120 triliun, sebuah nilai yang mencerminkan besarnya kerugian sosial dan ekonomi bagi masyarakat Indonesia.
Eskalasi karhutla yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia menjadi perhatian utama PFI. Dalam keterangannya, PFI menekankan perlunya langkah-langkah sistemik untuk menekan risiko kebakaran yang terus meningkat, terutama di tengah kondisi iklim yang menantang. PFI menyoroti pentingnya efektivitas sistem peringatan dini yang tidak hanya terbatas pada penyampaian informasi, tetapi juga mencakup protokol mitigasi yang komprehensif.
“Early warning system harusnya bukan sekadar pengumuman, tetapi mencakup protokol lengkap mitigasi dan penanggulangannya, dari pusat sampai desa. Apalagi saat ini efek El Nino baru mulai dan belum mencapai puncaknya. Suhu akan makin panas. kekeringan makin meluas dan ancaman kebakaran hutan dan lahan makin meningkat,” tegas PFI dalam pernyataannya.
Menurut PFI, penguatan koordinasi dari tingkat pusat hingga ke pemerintah desa menjadi kunci dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan. Protokol yang terintegrasi diharapkan mampu meminimalisir dampak kesehatan yang dialami warga akibat paparan asap dan penurunan kualitas udara. Hingga saat ini, ancaman kekeringan yang meluas dan meningkatnya titik panas di berbagai daerah masih menjadi perhatian serius.
Upaya penanganan yang lebih sistemik dinilai mendesak untuk dilakukan guna melindungi kesehatan masyarakat serta menekan beban biaya kesehatan yang terus membengkak akibat dampak lingkungan tersebut. Senada dengan hal tersebut, berbagai pihak juga mendorong penanganan karhutla yang dilakukan secara lintas sektoral untuk memastikan respons yang lebih cepat dan terukur di lapangan.