IHSG Sesi I Melemah ke 6.480,65, Tertekan Sentimen Bursa Asia

Layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia.
Sumber gambar: SATU INDONESIA.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan sesi pertama pada Senin (24/8) dengan mencatatkan pelemahan. Indeks terpantau turun 45,04 poin atau sekitar 0,69 persen, sehingga menetap di level 6.480,65.

Koreksi yang terjadi di pasar domestik ini berlangsung di tengah sentimen negatif yang melanda mayoritas bursa saham di kawasan Asia. Selain tekanan pada indeks saham, nilai tukar rupiah juga mengalami depresiasi tipis terhadap dolar AS sebesar 3 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp17.697 per dolar AS.

Aktivitas perdagangan pada sesi pertama menunjukkan volume transaksi yang cukup signifikan dengan total 24,80 miliar lembar saham berpindah tangan. Frekuensi transaksi tercatat mencapai 1,39 juta kali dengan total nilai transaksi sebesar Rp9,03 triliun.

Di pasar regional, pelemahan IHSG sejalan dengan tren negatif indeks utama di Asia. Indeks Hang Seng di Hong Kong memimpin penurunan dengan koreksi 2,16 persen ke level 25.455. Sementara itu, indeks SSE Composite di China melemah 0,72 persen ke level 3.877,3 dan Nikkei 225 di Jepang turun 0,48 persen ke posisi 65.700,5. Indeks Straits Times di Singapura juga terkoreksi sebesar 0,18 persen ke level 5.678,5.

Meskipun indeks secara keseluruhan melemah, beberapa saham mencatatkan penguatan signifikan. Pelangi Indah Canindo (PICO) menjadi penguat tertinggi dengan kenaikan 34,31 persen ke level 184, disusul oleh Centratama Telekomunikasi Indonesia (CENT) yang naik 27,91 persen ke level 110. Saham Steady Safe (SAFE) dan Ingria Pratama Capitalindo (GRIA) juga mencatatkan kenaikan masing-masing sebesar 23,35 persen dan 23,08 persen.

Di sisi lain, tekanan jual terlihat pada saham Harta Djaya Karya (MEJA) yang merosot 9,92 persen ke level 118. Penurunan juga dialami oleh Citra Tubindo (CTBN) sebesar 7,49 persen, Estee Gold Feet (EURO) sebesar 7,21 persen, Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ) sebesar 6,91 persen, serta Fuji Finance Indonesia (FUJI) sebesar 6,59 persen.

Dari sisi likuiditas, Bumi Resources (BUMI) menjadi saham dengan nilai transaksi tertinggi mencapai Rp526,97 miliar, diikuti oleh Dian Swastatika Sentosa (DSSA) senilai Rp468,39 miliar dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) senilai Rp330,64 miliar. Pasar kini menantikan perkembangan pada sesi perdagangan berikutnya untuk melihat apakah tren penurunan ini akan berlanjut atau terjadi pembalikan arah.

Menyiapkan ruang diskusi…
Lebih baru Lebih lama

Iklan

News